Alkisah sebuah pohon apel dan buah apel yang masih tergantung dengan manisnya di ujung dahan saling bercakap-cakap pada suatu siang....
Pohon : heeeey apel, coba kau lihat, gadis yang itu.
Pohon berkata sambil menunjuk pada seorang gadis yang sedang duduk bersandar padanya.
Apel : yayaya, aku melihatnya...ada apa pohon?
Pohon : kemarin aku melihatnya menangis...
Apel : menangis ? kenapa?
Pohon : sudah beberapa hari ini sejak dia datang dan menulis, dia selalu menangis.
Apel : dia gadis yang manis... padahal dia sudah lama menjadi sahabat
kita, tapi aku tidak pernah melihatnya menangis pohon.
Pohon : dia menangis, tapi suaranya bahkan tidak terdengar. Namun aku melihat ia menitikkan air matanya.
Apel : kau tahu apa sebabnya ?
Pohon : yaa, sepertinya ia baru saja kehilangan seseorang yang dicintainya.
Apel : dicintai ? siapa itu? Apakah kau tau pohon?
Pohon : ya, seorang pria yang pernah di temuinya ditaman ini. Aku sering melihatnya selalu menatap ke arah pria itu.
Apel : lalu ?
Pohon : dia selalu tersenyum saat melihat pria itu, sekalipun hanya memandang dari jauh.
Apel : hmmm, lalu apa yang membuat dia bersedih?
Pohon : delapan hari yang lalu, ia datang dan bersandar pada kakiku lagi,
kali ini aku melihatnya menutup mata dan air mata bergulir jatuh....berlomba-lomba untuk mengalir... kemudian aku mendengar ia berkata
“tolong jangan datang lagi....”
Aku penasaran, kenapa gadis manis ini berkata seperti itu sambil menangis..
Lalu, ia membuka matanya dan mulai menulis... :
ada sepasang mata, ada sebuah jalanan yang panjang
ada sebuah matahari, ada sepasang kaki, dan ada sebuah hati
aku melihatmu yang sedang berdiri di atas jalanan itu
dengan sepasang kaki, aku mulai berjalan ke arahmu
kemudian aku berlari mendekatimu, dengan membawa sebuah hati
yang akan ku berikan untukmu
namun, ketika aku sampai di ujung jalan itu
ternyata....
yang tersisa hanya...
kekosongan...
kau sudah pergi....
apel : apa yang terjadi padanya dan pria itu pohon?
Pohon : ehhmm,aku tidak tau pasti. Namun kemarin sewaktu gadis ini belum datang kemari, aku melihat pria itu bersama seorang wanita. Dia sedang melukis wanita itu. Kemudian mereka berdua terlihat berkejar-kejaran dipadang rumput itu.
Apel : waaah, pasti gadis itu sangat sedih mengetahui hal tersebut
Pohon : iya, beberapa saat kemudian gadis itu datang dan memandangi mereka sedang berkejar-kejaran berdua. Dan tiba-tiba dia menangis lagi, sambil terus menatap mereka berdua.
Apel : pohon, kau punya ide untuk membuat dia tersenyum kembali ?
Pohon : mmm...bagaimana kalau kita bernyanyi apel....
Apel : ide yang baik...
Pohon : ayooo apel-apel,daun-daun,ranting-ranting...ayo kita bernyanyi dan bernari...
Lala....lala..lala....la..la..laaa
Angin berhembus lemah, menerbangkan rambutku...dan membuat daun-daunan pohon apel yang sedang ku sandari ini bernari dengan indahnya... aku menutup mataku dan menarik nafas panjang...kurasakan wangi bunga apel yang sedang berbuah....aku tersenyum, tertangkap dihatiku sebuah nyanyian yang indah, yang meneduhkan hatiku.
Ku rasakan air mataku menetes di atas pipiku...
Terpampang gambaran-gambaran indah, sebuah kisah, saat aku bersama dengan dia... seseorang yang pernah ada dalam lembaran kisah cintaku. Banyak waktu yang kita habiskan bersama...terlalu berarti bagiku.
Berhari-hari, aku menunggu dia kembali, menantikan senyumannya lagi, menantikan nyanyiannya lagi... berjam-jam aku duduk dibawah pohon ini dan memandangi dia dari kejauhan, menantikan senyumannya menghampiriku... namun ternyata, aku harus menerima kepergiannya dan melepaskan pribadinya untuk menjalani hidupnya sendiri... Mungkin aku yang salah, mungkin dia yang salah... entahlah... yang pasti, ada kesalahan dalam kisah ini. Dengan senyuman kami bertemu, namun pada akhirnya harus berpisah dengan air mata.
Tidak ada yang tau berapa banyak air mata yang menetes di pipiku...tidak ada yang tau berapa banyak hatiku berteriak dan berharap agar dia kembali, tidak ada yang tau berapa banyak aku duduk dibawah pohon ini untuk menunggunya... tidak ada yang tau, bahkan diapun tidak...
Aku menghembuskan nafas panjang....mencoba tersenyum lagi... kembali kurasakan aroma apel yang sedang berbuah...dan desiran angin berhembus seolah-olah membawa nyanyian indah ditelingaku... tiba-tiba ada sebuah apel berwarna merah kecoklatan jatuh disamping tanganku. Aku membuka mataku dan mengambil apel itu. Ku letakkan didepan mataku.
Aku berdiri dan berjalan menghampiri sebuah ranting yang menjuntai. Diujung ranting itu terdapat beberapa buah apel, ada yang berwarna hijau, ada yang berwarna merah dan di antaranya aku melihat bunga apel yang sedang bermekaran dan nantinya akan membentuk apel yang muda. Ku pandangi apel-apel itu dan apel yang ada ditanganku.
Pohon apel ini hebat... Dia bisa menghasilkan banyak buah... Buah-buahan ini pasti sangat berharga baginya. Ku pandangi buah apel tua yang ada ditanganku. Pasti dia merasa sangat kehilangan ketika salah satu buahnya harus lepas dari rantingnya, karena waktu yang memanggilnya. Ku pandangi buah apel muda yang masih bergelantungan dengan segarnya di atas pohon. Tetap saja ada bunga, tetap saja buah itu muncul, terus menerus. Pohon apel itu, sekalipun harus kehilangan buahnya, namun ia tetap terus menghasilkan buah yang lain.
Hmmphh....aku menghela nafas panjang. Ada waktu untuk berpisah, ada waktu untuk bersama.... ya benar... sekalipun perpisahan begitu menyesakan bagiku, namun aku harus menerimanya, dan menjalani hidupku kembali. Seperti pohon apel itu... dia tetap berbuah banyak. Begitu pula aku... mungkin dia tidak akan pernah kembali kesini, ke sisiku. Sekalipun hatiku bersedih, namun waktu akan berubah, situasi dan keadaan akan berubah... dan aku tidak bisa terus tinggal dalam kesedihanku... Aku harus berbuah, seperti pohon apel itu, aku harus kembali kepada kehidupanku dan melakukan hal yang lebih penting...
Aku berdiri, menghapus air mataku dan menatap pohon apel itu lalu tersenyum lebar...
“terimakasih pohon apel... kau sudah menjadi teman yang baik bagiku...”
Aku mengemasi barang-barangku dan kemudian mengelus pohon apel itu, lalu berjalan pulang ke rumah.
Apel : gadis yang manis... aku menyayanginya
Pohon : ya... syukurlah dia bisa tersenyum kembali. Yah begitulah hidup apel. Ada yang pergi dan ada yang datang. Ada waktu untuk berpisah dan ada waktu untuk bertemu. Ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk menangis. Namun, apapun yang terjadi waktu akan berubah, keadaan akan berubah, bahkan musimpun akan berubah... dan disaat itulah kita harus menyadari bahwa kita tidak bisa terus tinggal dalam keadaan yang sama terus-menerus melainkan kita harus berubah dan maju.
Apel : ya benar pohon. Aku percaya, gadis itu pasti bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik lagi, yang menyadari bahwa gadis itu begitu berharga untuk ditinggalkan.
Pohon : ya, itu pasti apel...
Apel : hmmphh... aku senang sekali...ayo kita bernyanyi lagi pohon...
Lala...la...laa.....
hmmm...
BalasHapusberkorban untuk orang yang kita kasihi memang kudu bayar harga,
tapi sebaliknya ada rasa bahagia ketika melihat orang yang kita kasihi pun merasa bahagia..
^^
hahaha...bener2 itu dan..hehehe...
BalasHapusmencoba menuangkan ide ke atas kertas dari kisah seorang sahabat...hehehhee...
Cinta adalah anugrah...lho ? kok jd ngomongin cinta yah...nais, crt yg bgs...btw, apel merahnya buatku dong...kyaknya tuh apel ku butuhkan utk tmn share mengenai seseorang yg sdh menari2 dg yg lain...Ups...!
BalasHapushahaha....hmmmhh...yuuuuu...boleh2 bang...sok aja si apelnya dipinjamin, buat temen cerita2...hihihihi...^^b. but thx bwt commntny bang... ^_____^b
BalasHapus